2.1.17

Kilas Balik

Sudah tahun 2017. Tahun ini berarti akan menjadi tahun ke-25 aku menjadi penghuni bumi, di luar 9 bulan yang aku lewati di rahim ibuku. Seperempat abad sudah, dan hanya perlu 5 tahun lagi bagiku untuk memasuki kepala tiga.

Sepuluh tahun yang lalu kupikir beranjak umur dua puluhan semua hal akan begitu berbeda, termasuk diriku sendiri. Ternyata tidak. Aku masih merasa seperti aku yang masih mengenakan seragam putih abu-abu. Yang berbeda saat ini tentu aku tak perlu lagi menggunakan seragam apapun, lalu kini aku memiliki kehidupan sendiri yang di dalamnya semua keputusan aku ambil tanpa perlu meminta izin pada siapa-siapa. Mungkin ini satu-satunya bayanganku masa remaja akan kehidupan orang dewasa yang menjadi kenyataan. Sisanya, aku masih merasakan kecanggungan yang sama, kesepian yang sama, ketidakterikatan yang sama. 

Walau demikian, kurasa dalam tiap tahun yang kulewati memang akan selalu ada yang berubah. Yang paling signifikan adalah hubunganku dengan manusia lain -- bagaimana aku memandang relasi yang kupunya dengan orang lain, bagaimana aku memperlakukan orang lain. Di tahun yang baru saja terlewati, aku belajar bahwa ada beberapa orang yang harus ditinggalkan. Bukan karena mereka telah berbuat sedemikian jahat kepadamu, namun memang karena secara tak langsung wajah-wajah tersebut bukanlah wajah yang tepat untuk kau pajang di bingkai-bingkai yang ada dalam ruang tamu imajinermu.

Selain itu, di 2016 aku memahami bahwa kebahagiaan bukanlah sebuah perasaan yang meluap-luap dan membuatmu ingin selalu tersenyum. Setidaknya begitulah yang kutangkap. Ia adalah sesuatu yang dapat membuatmu berbaring di kasurmu yang keras, menatap langit-langit kamar yang sudah mulai didiami sarang laba-laba, lalu berkata, "Ah, hidup tidak buruk-buruk amat, kok"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar